Budidaya melon dengan sistem irigasi tetes berbasis tehnologi
Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur mengembangkan sistem pertanian presisi berdasarkan Internet of Thing untuk budidaya tanaman melon.

Elshinta.com - Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur mengembangkan sistem pertanian presisi berdasarkan Internet of Thing untuk budidaya tanaman melon. Drip Irrigation System Berbasis IoT tersebut merupakan hasil inovasi dari Eka Maulana- UB Tech bersama tim ATP UB yang saat ini sedang diterapkan pada kebun melon di Agro Techno Park Jatikerto, Kabupaten Malang.
“Teknologi drip Irrigation merupakan salah satu bentuk pertanian presisi yang menggunakan metode penyiraman bermodelkan sistem tetes (drip) yang dikendalikan berdasarkan kadar air dari media tanam," kata Eka Maulana seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, El-Aris, Sabtu (23/10).
Secara logika ketika tanah kering maka sistem drip ini aktif. Berapa kadar air dalam media itu kapan sistem drip itu aktif itu data dan informasi terkait mekanisme dikirim melalui koneksi IoT.
“Secara prinsip yang sudah diterapkan air dengan tambahan nutrisi saja," kata Eka.
Eka menjelaskan, sistem tersebut tidak hanya bisa digunakan untuk Irigasi tapi bisa digunakan untuk deteksi lain termasuk kebutuhan nutrisi , pencahayaan, suhu, serta kelembaban greenhouse kebun melon tersebut.
"Dalam prosesnya, sistem drip irrigation tersebut bekerja sesuai dengan kebutuhan nutrisi masing-masing tanaman yang akan diairi. Jadi bukan sekedar dari seberapa banyak dia mengairi tanaman tapi disesuaikan dengan usia tanaman. Pengendalian sistem ini termonitor dari segi waktu dan variabel data yang sudah terekam dengan baik," kata Eka.
Untuk rasa melon berbasis IOT dengan sistem irigasi tetes sangat bervariatif. “Antara 16 hingga 17 tingkat kemanisannya karena kalau di atas 30 maka terlalu manis dengan kwalitas premium dan aman untuk penderita diabetes karena gulanya merupakan glukosa buah,” ringkasnya .
Manager Pertanian dan Pengembangan ATP Suyadi mengatakan proses pemberian nutrisi melalui air yang dialirkan ke media pada tanaman secara berkala tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
"Dalam sehari bisa dilakukan sebanyak 5 sampai 10 kali. Sehingga dengan teknologi itu kita tidak perlu secara manual memberikan nutrisinya. Bisa ditinggal untuk mengerjakan pekerjaan yang lain, karena secara otomatis akan menyalakan mesin drip dan mengaliri nutrisi ke media tanam sesuai dengan kebutuhan tanaman," kata Suyadi.
Suyadi mengaku dengan IoT mempermudah pekerjaan, karena secara otomatis mesin akan menyala ketika media tanam sudah membutuhkan nutrisi.
"Sehingga tidak sampai terjadi kekurangan nutrisi. Karena jika kita manual, maka kita masih menggunakan insting saja kapan tanaman membutuhkan nutrisi," katanya.
Penerapan sistem drip tersebut ternyata memberikan hasil maksimal pada tanaman Melon. “Hasil buahnya bisa lebih bagus dan ideal, sebab ketersediaan nutrisinya stabil. Karena jika nutrisinya tidak stabil maka perkembangan buah melon tidak optimal, buah bisa pecah atau tingkat kemanisan akan rendah,"imbuhnya.
Suyadi menambahkan, Melon yang dibudidayakan dengan menggunakan sistem drip irrigation tersebut berkualitas premium mulai dari rasa, net atau kulit berjaring yang tersusun rapi, dan berat yang ideal dibandingkan melon yang konvensional.
“Apalagi menanam buah melon seperti merawat bayi namun budi daya melon apalagi pasarnya ekslusif jadi memang rasa pasti berbeda dengan yang dijual pada pasar konvensiaonal dengan harga diswalayan per Kg mencapai Rp.40 ribu/kg. Di Jatikerto ada beberapa jenis dari berbagai jenis rock, golden, dan honey dan kita utamanya kwalitas " tandasnya.